MACAM-MACAM HEWAN YANG
TERMASUK AVERTEBRATA PERAIRAN
diajukan untuk memenuhi tugas Praktikum
Avertebrata Perairan

Disusun oleh
Jaenudin
JURUSAN PERIKANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
2017
Dengan
menyebut nama Tuhan Yang Maha Kuasa. Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan
Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami
dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya.
Makalah ini telah kami susun dengan semaksimal mungkin
dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar
pembuatan laporan ini. Kami
sangat berharap laporan mata kuliah Avertebrata Perairan ini dapat berguna
dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai Macam-macam hewan
yang termasuk Avertebrata Perairan. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di
dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab
itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang
telah saya buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang
sempurna tanpa saran yang membangun. Semoga makalah ini bermanfaat untuk
para pembaca dan juga kami khususnya sebagai penyusun.
Serang, 16 April 2018
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR................................................................................... i
DAFTAR ISI.................................................................................................. ii
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang....................................................................................... 1
1.2 Tujuan.................................................................................................... 1
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Habitat
Avetebrata................................................................................ 2
2.2 Filum
Echinodermata............................................................................. 2
2.3 Porifera.................................................................................................. 4
2.4 Filum
Mollusca...................................................................................... 5
2.5 Filum
Coelenterata................................................................................. 7
2.6 Filum
Annelida...................................................................................... 8
2.7 Platyhelminthes...................................................................................... 9
2.8 Nemalthelminthes.................................................................................. 10
2.9 Arthropoda............................................................................................ 11
BAB 3. PENUTUP
3.1 Kesimpulan............................................................................................ 13
3.2 Saran ..................................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA
BAB
1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Avertebrata air adalah
hewan air yang tidak mempunyai tulang belakang dan susunan pencernaannya
terletak dibawah saluran pencernaan. Avertebrata air tebagi menjadi delapan
filum yaitu: Porifera, Coelenterata, Echinodermata, Mollusca, Plathyhelmanthes,
Nemalthelminthes, annelida dan Arthropoda. Di dunia ini terdapat lebih dari
satu juta spesies hewan yang sudah teridentifikasi. Dalam kehidupan sehari-hari
kita lebih banyak menjumpai hewan vertebrata daripada avertebrata, tetapi
sebenarnya jumlah spesies vertebrata hanya 5% dan selebihnya merupakan
avertebrata (Suwignyo dkk., 2005).
Avertebrata air adalah
hewan yang tidak bertulang belakang (backbone), yang sebagian atau seluruh daur
hidupnya di dalam air. Ditinjau dari segi bentuk, ukuran dan adaptasi
lingkungan, hewan avertebrata air mempunyai keanekaragaman yang tinggi.
Sementara itu dari segi ukuran dijumpai mulai dari yang berukuran kecil sampai
besar, dan dari segi bentuk tubuh yang sederhana sampai yang kompleks. Dilihat
dari lingkungan hidupnya ada yang di darat, air tawar, air payau, atau laut,
bahkan ada yang di daerah ekstrim seperti danau garam (Suwignyo, dkk, 2005).
Berdasarkan keterangan
tersebut, tentunya ada kaitan antara avertebrata air dengan perikanan yang
keduanya berhubungan dengan lingkungan perairan. Bidang perikanan tidak hanya
mencakup studi tentang perikanan saja, melainkan juga menyangkut seluruh
kehidupan yang terdapat di dalam perairan, termasuk avertebrata. Semua
kehidupan dalam perairan membentuk hubungan keterkaitan antara satu dengan yang
lainnya, juga dengan lingkungan yang disebut ekosistem.
1.2
Tujuan
Tujuan dibuatnya
makalah ini adalah untuk memenuhi syarat praktikum Avertebrata Perairan dan
sebagai bahan pembelajaran tentang macam-macam hewan yang
termasuk Avertebrata Perairan.
BAB
2
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1
Habitat Avetebrata
Habitat avetebrata air
adalah lingkungan air tawar dan air laut. Air laut merupakan perairan yang
memiliki salinitas 34-35 ppt. dan kestabilan lingkungan yang tinggi (Jasin
1992). Setiap phylum avetebrata selalu mempunyai aggota yang hidup dilaut,
bahkan untuk phylum Ctenophora dan Echinodermata hanya terdapat di laut.
Beberapa jenis dari nenek moyang yang hidup dilaut telah berhasil bermigrasi ke
daerah air tawar bahkan ke darat dan selanjutnya menetap diperairan tawar atau
daratan. Hanya sedikit hewan yang berasal dari darat, misalnya serangga, tungau
atau siput dari sub kelas Pulmonata.
Oleh karena itu fauna air tawar dapat dikatakan sebagai imigran (Meglitsch
1972). Setiap filum avetebrata selalu mempunyai anggota yang hidup di laut,
bahkan seperti filum Ctenophora dan Echinodermata hanya terdapat di laut
(Nontji 1986).
2.2
Filum Echinodermata
Echinodermata
berasal dari bahasa Yunani, echinus yang berarti duri dan dermalyang berarti
kulit. Jadi, echinodermata adalah hewan yang mempunyai kulit berduri. Anggota
echinodermata semuanya hidup di laut. Bintang laut, bulu babi atau teripang
biasanya hidup di pantai yang airnya jernih dan tidak terlalu bergelombang.
Teripang sering bertebaran di pasir laut
yang putih (Nybakken 1988). Echinodermata
memiliki kulit keras, yang terbuat dari zat kapur atau kitin. Ini digunakan
sebagai rangka luar. Pada permukaan kulit terdapat duri-duri. Tubuhnya simetri radial
yang berarti jika dipotong secara radial atau berdasarkan jari-jari, maka akan
terbentuk bagian tubuh yang simetris. Hewan ini mempunyai lima lengan, dimana
mulutnya terletak di bawah, sedangkan anus di atas (Nybakken 1988)
Keistimewaan phylum
echinodermata adalah mempunyai susunan tubuh lipat lima dan sistem saluran air.
Dikatakan susunan tubuh lipat lima karena organ-organ tubuhnya berjumlah lima
atau kelipatannya, misalnya 5, 10, 15, 20, 25 dan seterusnya. Sistem saluran
air sering disebut sebagai sistem ambulakral, yakni berupa saluran-saluran air
dari madreporit menuju ke kaki-kakinya. Air dapat keluar masuk melalui sistem
ini. Sistem ini digunakan untuk bergerak, bernapas dan membuka mangsanya
(misalnya membuka cangkang keras).
Echinodermata
adalah hewan-hewan laut yang kulitnya berduri atau berbintil. Phylum
echinodermata mempunyai bentuk tubuh, anatomi dalam dan fisiologis yang sangat
kuat dimana bentuk tubuhnya simetris radial lima penjuru, meskipun hewan-hewan
ini termasuk dalam divisi bilateral.
Permukaan tubuhnya terbagi menjadi lima bagian yang terjadi atas daerah
ambulakral yaitu tempat menjulurnya kaki tabung, dan daerah interamburakral
yang tidak ada kaki tabungnya. Rongga
tabungnya dilapisiporiteneum bersilia, dalam perkembangan sebagai tubuh menjadi
sistem pembuluh air, sesuatu organ yang tidak demikian oleh hewan avertebrata
lainnya (Nontji 2005).
Echinodermata
sangat umum dijumpai di daerah pantai terutama di daerah terumbu karang
kemudian juga di daerah pantai berbatu yang berlumpur. Di Indonesia echinodermata terdapat dikawasan
Indo pasifik barat dan sekitarya yakni teripang sebanyak kurang lebih 141
jenis, bulu babi 84 jenis, dan lili laut sebanyak 92 buah. Echinodermata dapat hidup di laut dalam,
bahkan di palung laut dan juga ada di pantai (Nontji 2005).
Phylum echinodermata dibagi dalam 5
kelas, yaitu :
- Kelas
Asteroidea (bentuk tubuh seperti bintang), misalnya Asteria forbesi (bintang laut), Linkia laevigata (bintang laut biru), Pentaceros (bintang laut bertanduk) dan Culcita (bintang laut berkulit).
- Kelas
Ophiuroidea (bentuknya seperti ular), misalnya Ophiothrix dan fragillis
(bintang ular laut).
- Kelas
Crinoidea (bentuknya seperti bunga lili), misalnya Antodon tanella.
- Kelas
Echinoidea (bentuknya seperti landak laut), misalnya Echinocardium cordatum (landak laut). (Bulu
babi).
- Kelas
Holothuroidea (bentuknya bulat panjang), misalnya Cucumari planci (teripang). (Aslan dkk 2010).
2.3
Porifera
Porifera adalah hewan
air yang hidup di laut. Hidupnva selalu melekat pada substrat (sesil) dan tidak
dapat berpindah tempat secara bebas. Ciri
memiliki lubang (Pori) yang banyak dan membentuk suatu sistem utama saluran.
Air dan makanan yang larut didalamnya diarnbil oleh hewan tersebut masuk
melalui lubang Ostium, kemudian masuk ke dalam rongga tubuh. Setelah makanan
diserap air yang berlebian dikeluarkan melalui lubang yang di sebut Oskulum. Terdapat
sel dengan bentuk khusus yang disebut koanosit atau sel leher yang berfungsi
untuk pencemaan makanan. Sel koanosit memiliki nukleus, vakuola dan flagel.
Karena pencernaan berlangsung di dalam sel maka pencernaan Intrasel. Mempunyai
eksoskeleton (Rangka Luar): terdiri dari serabut-serabut lentur yang disebut spongin
dan terdiri dari duriyang disebut spikula. Pembiakan dengan cara generatif (kawin),
hewan ini mempunyai daya regenerasi yang tinggi.
Porifera (Latin: porus
= pori, fer = membawa) atau spons atau hewan berpori adalah sebuah filum untuk
hewan multiseluler yang paling sederhana.Ciri-ciri morfologinya antara
lain:tubuhnya berpori (ostium) yang banyak dan membentuk suatu Sistem.
Makanannya adalah bakteri dan plankton. Makanan yang masuk ke tubuhnya dalam
bentuk cairan sehingga porifera disebut juga sebagai pemakan cairan. Habitat
porifera umumnya di laut. Reproduksi Porifera melakukan reproduksi secara
aseksual maupun seksual. Reproduksi secara aseksual terjadi dengan pembentukan
tunas dan gemmule. Gemmule disebut juga tunas internal. Gemmule dihasilkan
menjelang musim dingin di dalam tubuh Porifera yang hidup di air tawar. Secara
seksual dengan cara peleburan sel sperma dengan sel ovum, pembuahan ini terjadi
di luar tubuh porifera. Porifera hidup di air laut dan air tawar, tapi
kebanyakan hidup di laut mulai dari daerah perairan pantai yang dangkal hingga
kedalaman 5,5 km. Bentuk tubuhnya seperti tabung atau jambangan bunga yang
bersifat simetris radial. Di dalam tubuhnya terdapat rongga tubuh yang disebut
spongosol. Dalam fase hidupnya mengalami dua bentuk, yaitu polip (hidup
berenang bebas). Ini terjadi pada fase larva. Lalu yang kedua sessil (hidup
menetap) setelah dewasa. Struktur tubuh porifera terdiri atas dua lapisan yaitu
epidermis dan endodermis. Epidermis (lapisan luar) terdiri atas sel-sel
epithelium berbentuk pipih (pinakosit). Endodermis terdiri atas sel berflagela
yang berfungsi mencerna makanan dan bercorong yang disebut sel leher atau
koanosit. Di antara kedua lapisan itu terdapat bahan gelatin yang disebut
mesoglea (Anonim 2010).
Umumnya hewan Porifera
dijumpai hidup di laut, melekat pada substrat dan hanya bergerak sedikit
sekali. Hanya famili Spongilliade (kurang dari 150 species) yang hidup di air
tawar pada Porifera yang hidup di laut berkisar 10.000 species. Umumnya pada
air dangkal, namun ada pula pada bagian yang dalam. Berdasarkan bentuknya
Porifera dibedakan menjadi tiga tipe utama, yaitu; tipe Ascon, tipe Sycon atau
Schypa atau tipe Rhagon (Hartati, 2009).
Diantara ketiga tipe di
atas maka, tipe ascon yang paling sederhana, contohnya Ascettea atau Olynthus
yang masih muda, bentuk tubuh seperti piala atau jambangan, atau ujung
memanjang dan melekat pada dasar laut. Pada ujung yang bebas terdapat satu
lubang yang besar yang disebut osculum, pada dindingnya terdapat lubang-lubang
kecil yang disebut aperture atau ostia di mana air dapat mengalir masuk ke
dalam rongga di dalam tubuh yang disebut paragaster, air kemudian mengalir keluar
melalui osculum (Hartati 2009).
Hewan berpori terdapat 4 kelas yaitu :
- Kelas
Calcarea (spikula terbuat dari zat kapur), misalnya Grantia, Scypha gelatinosa dan Leucosoelenia.
- Kelas
Hexactinellida (spikula terbuat dari zat silikat/kersik), misalnya Euplectella aspergillum, Regadrella sp.
- Kelas
Demospongia (spikula terbuat dari zat kersik dan protein atau hanya
protein saja), misalnya Spongilla
sp, Euspongia sp, Microciona, Corticium.
- Kelas
Selenospongiae (memiliki spikula yang tersusun atas silikat)
2.4
Filum Mollusca
Mollusca berasal dari
bahasa Romawi yaitu molis yang berarti lunak sehingga semua hewan yang
tergolong phylum ini memiliki tubuh lunak. Umumnya tubuhnya bercangkang, tetapi
ada juga yang tidak memiliki cangkang. Cangkang terbuat dari zat kapur. Letak
cangkang tersebut ada yang di luar tubuh, tetapi ada juga yang terletak di
dalam tubuh. Selain itu di antara anggotanya ada yang dimanfaatkan oleh manusia
sebagai makanan (Aslan, dkk, 2010) Jenis mollusca yang umum dikenal ialah
siput, kerang dan cumi-cumi. Mollusca hidup sejak periode cambrian, terdapat
lebih dari 100.000 spesies hidup dan 35.000 spesies fosil. Kebanyakan dijumpai
di laut dangkal, beberapa pada kedalaman sampai 7.000 m, beberapa di air payau,
air tawar dan darat (Aslan dkk, 2010)
Phylum mollusca
kebanyakan ditemukan di laut dangkal dan beberapa ditemukan pada
kedalaman sampai 7000 meter,
beberapa lagi di air payau, air tawar dan di darat. Penyebarannya banyak terdapat di perairan,
darata dan tempat-tempat yang dangkal dan terdapat 100.000 spesies yang hidup
(Suwignyo dkk., 2005). Pada gastropoda habitat hidup terdapat didarat, perairan
tawar dan terbanyak dilaut. Kelas pelecypoda umumnya terdapat didasar perairan
yang berlumpur atau berpasir, beberapa hidup pada substrat yang lebih keras
seperti lempung, kayu atau batu (Aslan dkk., 2010).
Anggota dari phylum
mollusca mempunyai bentuk tubuh yang sangat beraneka ragam, dari bentuk
silindris seperti cacing dan tidak mempunyai kaki maupun cangkang, sampai
bentuk hampir bulat tanpa kepala dan tertutup dua keping cangkang besar. Oleh
sebab itu, berdasarkan bentuk tubuh, bentuk dan jumlah cangkang, serta beberapa
sifat lainnya, phylum mollusca dibagi kedalam 8 kelas, yaitu :
§ Kelas
Polyplacophora atau Amphineura Chiton
sp.
- Kelas
Grastopoda Achatina fulica
(bekicot), Fissurella sp. (siput
laut), Lymnaea javanica (siput
air tawar), Vaginulla sp. (siput
telanjang)
- Kelas
Cephalopoda Octopus sp.
(gurita), Loligo sp.
(cumi-cumi), Nautilus sp.
- Kelas
Bivalvia Mitilus viridis (kerang
hijau), tiram (Ostrea sp.),
ketam (Anodonta sp.), dan remis
(Buccinus sp.).
- Kelas
Scaphopoda Dentalium vulgare
- Kelas
Chaetodermomorpha Caudofoveata juga dikenal sebagai Chaetodermomorpha
yaitu merupakan kelompok moluska dengan bentuk tubuh silindris dan tidak
mempunyai cangkang tidak mempunyai kaki,dan mantel menutupi seluruh
permukaan tubuh untuk penganti cangkang Chaetodermomorpha adalah hewan yang hidup sebagai bentos
laut dan pemakan sedimen, Chaetodermomorpha memiliki ciri khas yaitu tidak
di jumpai sistem organ seperti pada moluska seperti radula.
- Kelas
Neomeniomorpha hewan yang memiliki bentuk tubuh seperti cacing,memanjang
menurut sumbu anterior posterior tidak mempunyai cangkang,kepala tidak
jelas tidak mempunyai alat ekresi maupun gonoduct,bahkan beberapa spesies
tidak mempunyai radula.panjang tubuh 1mm sampai 30cm.dan hidup di laut dan
biasa terdapat pada koloni coelenterate,karena sebagai hewan karnivora merupakan
pemakan polip-polipnya.terdapat 180 spesies,semunya hermafrodit, di bagi
menjadi dua ordo atas dasar jumlah lapisan kapur dan ada atau tidakadanya
papilla epidermis.
- Kelas
Monoplacophora hewan yang mempunyai bentuk tubuh seperti siput kecil
berukuran 3mm sampai 3cm tubuh bagian dorsal tertutup dengan sebuah
cangkang bagian ventral terdapat sebuah kaki yang datar dan bundar,di
bagian lateral dan posterior kaki di kelilingi rongga mantel yang luas
dalam rongga mantel tersebut terdapat 5 atau 6 pasang cetenidia
monopectinate serta 5 pasang atau 6 pasang ginjal. (Aslan dkk., 2010).
2.5
Filum Coelenterata
Coelenterata berasal
dari bahasa Yunani yakni “coelos” yang berarti rongga dan “enteron” yang
berarti usus/perut sehingga coelenterata diartikan sebagai hewan yang memiliki
rongga. Hewan berongga memiliki kinerja struktur yang lebih kompleks bila kita
bandingkan dengan hewan berpori.
Hewan berongga memiliki
rongga yang berperan sebagai usus untuk mencerna makanan, sebuah mulut untuk
menelan mangsanya dan tentakel yang berguna untuk menangkap mangsanya. Hewan
jenis ini mampu hidup sendiri atau berkoloni. Pada umumnya dapat kita jumpai di
perairan asin namun adapula yang hidup di perairan tawar. Yang termasuk hewan
jenis ini misalnya ubur-ubur, karang laut dan anemon.
Coelenterata melakukan
perkembangbiakan secara seksual dan aseksual. Secara seksual yaitu berupa
penyatuan sperma dan ovum yang akan membentuk zigot. Sedangkan secara aseksual
yaitu dengan membentuk tunas (kuncup) yang kemudian menempel pada kaki
induknya. Kemudian kakinya akan membesar membentuk tentakel dan terlepas
menjadi individu yang baru. Coelenterata adalah hewan berongga, disebut juga
Cnidaria yaitu binatang jelatang. Coelenterata hidup bebas secara heterotrof
dengan memangsa plankton dan hewan kecil di air.
Coelenterata terdiri dari 3 kelas yaitu
:
- Kelas
Hydrozoa (berbentuk polip, membentuk medusa yang mempunyai laci dan
payung), misalnya Hydra, Gonionemus
dan Obelia.
- Kelas
Schyphozoa (membentuk medusa, tidak bercadar, saluran radialnya bercabang
majemuk dan mempunyai kantung ruang gastrikum yang berisi gonad), misalnya
Aurelia aurita (ubur-ubur).
- Kelas
Anthozoa (berbentuk polip, tidak membentuk medusa, tidak bertangkai,
terbungkus skeleton eksternal (karang) serta memiliki banyak tentakel yang
tersusun di sekitar mulut), misalnya anemon dan hewan karang laut.
2.6
Filum Annelida
kelompok hewan dengan
bentuk tubuh seperti susunan cincin, gelang-gelang atau ruas-ruas. Istilah kata
Annelida berasal dari bahasa Yunani dari kata annulus yang
berarti cincin, dan oidos yang berarti bentuk. Annelida
merupakan cacing dengan tubuh bersegmen, tripoblastik dengan rongga tubuh
sejati (hewan selomata) dan bernapas melalui kulitnya. Terdapat sekitar 15.000
spesies annelida dengan panjang tubuh mulai dari 1 mm-3 m. Filum Annelida hidup
di air tawar, air laut, dan di tanah. Umumnya annelida hidup secara bebas, meskipun
ada yang bersifat parasit. Filum annelida terbagi 3 kelas yaitu :
- Kelas
PolyChaeta Eunice viridis
(Cacing Palolo), sebagai bahan makanan (mengandung protein tinggi) Lysidice oele (Cacing Wawo),
sebagai bahan makanan (mengandung protein tinggi). Nereis domerlili, Nereis Virens, Neanthes Virens (cacing air laut). Arenicola sp,
- Kelas OligoChaeta Moniligaster houtenil (Cacing tanah
sumatra), Tubifex sp (Cacing air
tawar/sutra), berperan sebagai indikator pencemaran air. Lumbricus
terestris, Pheretima sp (Cacing
Tanah), berperan membantu aerasi tanah sehingga menyuburkan tanah, Perichaeta musica (C.Hutan)
- Kelas Hirudenia Heaemodipso zeylanice (Pacet),
hidup di darat, tempel lembab, dan menempel pada daun, Hirudo javanica (lintah yang
terdapat di pulau jawa), Dinobdelia
Ferox (lintah yang terdapat di India), Hirudo medicinalis (lintah), hidup di air tawar.
2.7 Platyhelminthes
Tubuh pipih, simetri bilateral, terdapat bagian
anterior (depan) dan posterior (belakang). Cacing pipih bersifat triploblastik,
artinya memiliki tiga lapisan jaringan embrional, yakni epidermis (lapisan
luar), mesodermis (lapisan tengah), dan endodermis (lapisan dalam). Hewan ini
ada yang hidup bebas, ada juga yang parasit pada hewan atau manusia. Cacing
pipih belum memiliki rongga tubuh yang sebenarnya (aselomata). Namun telah
memiliki sistem ekskresi, saraf, dan reproduksi. Cacing yang parasit alat
pencernaannya kurang berkembang. Filum ini mencakup semua cacing pipih kecuali
Nemertinea, yang dulu merupakan salah satu kelas pada Platyhelminthes, yang
telah dipisahkan.
Platyhelminthes dapat dibedakan
menjadi 3 kelas yaitu :
- Kelas Turbellaria merupakan
cacing pipih yang menggunakan bulu getar sebagai alat geraknya, contohnya
adalah Planaria.
- Kelas Trematoda memiliki alat hisap yang dilengkapi
dengan kait untuk melekatkan diri pada inangnya karena golongan ini hidup
sebagai parasit pada manusia dan hewan. Beberapa contoh Trematoda adalah Fasciola (cacing hati), Clonorchis, dan Schistosoma
- Kelas Cestoda memiliki kulit
yang dilapisi kitin sehingga tidak tercemar oleh enzim di usus inang.
Cacing ini merupakan parasit pada hewan, contohnya adalah Taenia solium
dan T. saginataSpesies ini menggunakan skoleks untuk menempel pada usus
inang. Taenia bereproduksi dengan menggunakan telur yang telah dibuahi dan
di dalamnya terkandung larva yang disebut onkosfer
2.8 Nemalthelminthes
Nemathelminthes (dalam bahasa yunani, nema = benang,
helminthes = cacing) disebut sebagai cacing gilig karan tubuhnya berbentuk
bulat panjang atau seperti benang.Berbeda dengan Platyhelminthes yang belum
memiliki rongga tubuh, Nemathelminthes sudah memiliki rongga tubuh meskipun
bukan rongga tubuh sejati. Oleh karena memiliki rongga tubuh semu,
Nemathelminthes disebut sebagai hewan Pseudoselomata.
Nemathelminthes dibagi menjadi dua kelas, yaitu :
- Kelas Nematoda
- Kelas Nematophora
Ascaris lumbricoides (cacing perut)
Cacing ini hidup di dalam usus halus manusia sehingga sering kali disebut
cacing perut. Ancylostoma duodenale
(cacing tambang) cacing ini dinamakan cacing tambang karena ditemukan di
pertambangan daerah tropis. Cacing tambang dapat hidup sebagai parasit dengan
menyerap darah dan cairan tubuh pada usus halus manusia. Oxyuris
vermicularis (cacing kremi) cacing ini disebut cacing kremi karena
ukurannya yang sangat kecil. sekitar 10 -15 mm. Cacing kremi hidup di dalam
usus besar manusia.Cacing kremi tidak menyebabkan penyakit yang berbahaya namun
cukup mengganggu. Wuchereria bancrofti
(cacing rambut) cacing rambut dinamakan pula cacing filaria.Tempat hidupnya di
dalam pembuluh limfa. Cacing ini menyebabkan penyakit kaki gajah (elefantiasis),
yaitu pembengkakan tubuh. Trichinella spiralis cacing ini hidup
pada otot manusia dan menyebabkan penyakit trikhinosis atau kerusakan otot. Manusia
yang terinfeksi cacing ini karena memakan daging yang tidak dimasak dengan
baik.
2.9 Arthropoda
Arthropoda adalah filum yang paling besar dalam
dunia hewan dan mencakup serangga, laba-laba, udang, lipan dan hewan sejenis
lainnya. Arthropoda adalah nama lain hewan berbuku-buku. Arthropoda biasa
ditemukan di laut, air tawar, darat, dan lingkungan udara, termasuk berbagai
bentuk simbiosis dan parasit. Hampir dari 90% dari seluruh jenis hewan yang
diketahui orang adalah Arthropoda. Arthropoda memiliki beberapa karakteristik
yang membedakan dengan filum yang lain yaitu : Tubuh bersegmen; segmen biasanya
bersatu menjadi dua atau tiga daerah yang jelas, anggota tubuh bersegmen
berpasangan (Asal penamaan Arthropoda), simetri bilateral, eksoskeleton
berkitin; secara berkala mengalir dan diperbaharui sebagai pertumbuhan hewan,
kanal alimentari seperti pipa dengan mulut dan anus, sistem sirkulasi terbuka,
hanya pembuluh darah yang biasanya berwujud sebuah struktur dorsal seperti pipa
menuju kanal alimentar dengan bukaan lateral di daerah abdomen, rongga tubuh;
sebuah rongga darah atau hemosol dan selom tereduksi, sistem syaraf terdiri
atas sebuah ganglion anterior atau otak yang berlokasi di atas kanal
alimentari, sepasang penghubung yang menyalurkan dari otak ke sekitar kanal alimentari
dan tali syaraf ganglion yang berlokasi di bawah kanal alimentary, ekskresi
biasanya oleh tubulus malphigi; tabung kosong yang masuk kanal alimentari dan
material hasil ekskresi melintas keluar lewat anus, respirasi dengan insang
atau trakhea dan spirakel, tidak ada silia atau nefridia.
Empat dari lima bagian (yang hidup hari ini) dari
spesies hewan adalah arthropoda, dengan jumlah di atas satu juta spesies modern
yang ditemukan dan rekor fosil yang mencapai awal Cambrian. Arthropoda biasa
ditemukan di laut, air tawar, darat, dan lingkungan udara, serta termasuk
berbagai bentuk simbiotis dan parasit. Hampir dari 90% dari seluruh jenis hewan
yang diketahui orang adalah Arthropoda. Arthropoda dianggap berkerabat dekat
dengan Annelida, contohnya adalah Peripetus di Afrika Selatan.
Arthropoda dalam dunia hewan merupakan filum yang
terbesar di dunia. Jumlah spesiesnya yaitu sekitar 900.000 spesies dengan
beragam variasi. Jumlah ini kira-kira 80% dari spesies hewan yang diketahui
sekarang. Arthropoda dapat hidup di air tawar, laut, tanah, dan praktis semua
permukaan bumi dipenuhi oleh spesies ini. Arthropoda mungkin satu-satunya yang
dapat hidup di Antartika dan liang-liang batu terjal di pegunungan yang tinggi.
Semua anggota filum ini mempunyai tubuh beruas-ruas dan kerangka luar yang
tersusun dari kitin. Rongga tubuh utama disebut hemocoel. Hemocoel terdiri dari
sejumlah ruangan kecil yang dipompa oleh jantung. Jantung terletak pada sisi
dorsal dari tubuhnya. Sistim saraf anthropoda seperti pada annellida, terdapat
bagian ventral tubuh berbentuk seperti tangga tali. Arthropoda memiliki lima
kelas, diantaranya yaitu :
- kelas Myriapoda kelabang, Spirobolus sp.
- kelas Crustacea kepiting, ketam, udang. Pada
udang betina, kaki di bagian abdomen juga berfungsi untuk menyimpan
telurnya.
- kelas Arachnida kalajengking, laba-laba
- kelas Insecta kecoa, kupu-kupu, nyamuk,
lalat
BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Avertebrata air adalah hewan air yang tidak
mempunyai tulang belakang dan susunan pencernaannya terletak dibawah saluran
pencernaan. Avertebrata air tebagi menjadi delapan filum yaitu: Porifera,
Coelenterata, Echinodermata, Mollusca, Plathyhelmanthes, Nemalthelminthes,
annelida dan Arthropoda.
3.2 Saran
Adapun saran dari saya mengingat avertebrata maerupakan hewan yang
termasuk banyak populasinya maka dari itu semoga banyak penelitian tentang
avertebrata perairan dari filum Plathyhelmanthes, Nemalthelminthes dan Arthropoda.
BAB 5
DAFTAR
PUSTAKA
Anonim.
2010. Pedoman penulisan karya ilmiah universitas lampung. Universitas
Lampung Press. Lampung.
Aslan,
L.M., Yusnaini, Wa Iba, Haslianti, Ratna Diyah Palupi, Wa Ode Piliana,
Nursyafrina Islamiyah. 2010. Penuntun
Praktikum Avertebrata Air. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas
Haluoleo. Kendari.
Hartati.
2009. Penuntun Praktikum Genetika.
Makassar: Jurusan Biologi FMIPA UNM.
Jasin,
Maskoeri. 1992. Zoologi Invertebrata.
Surabaya Sinar Wijaya.
Meglitsch,
P. A. 1972. Invertebrate Zoology.Second
Edition.Oxford University. London. P: 76-79.
Nontji
A.1986. Laut Nusantara. Jakarta:
Penerbit Djambatan
Nybakken,J.W.1988.
Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologi s.Hal:
170,210,211,366.Gramedia: Jakarta.
Suwignyo, Sugiarti dkk, Avertebrata Air
Jilid 1, Jakarta: Swadaya, 2005.
Komentar
Posting Komentar